Sebagaimana dikutip buku Trio Herbal (Trubus Swadaya), pada percobaan itu hewan dibagi dalam 3 kelompok. Tikus pada kelompok I sebagai kontrol. Pada kelompok II tikus diinjeksi karbon tetrakloridin (CC14) dengan dosis 0,15 ml/100 g bobot tubuh 3 kali seminggu selama 4 minggu. Sedangkan pada kelompok III tikus diberi CC14 dengan dosis sama seperti kelompok II plus diberi asupan ekstrak Habbatussauda dengan dosis 800 mg/kg bobot tubuh selama 4 minggu.
Hasilnya, kadar aspartat transaminase (AST), alanine transaminase (ALT), malondialdehyde (MDA) tikus yang diberi ekstrak Habbatussauda menurun dari masing-masing1.043,7 U/I, 247,9 U/I dan 7,42 nmol/ml menjadi 287,3 U/I, 48,4 U/I dan 4,46 nmol/ml.
AST dan ALT merupakan enzim yang terdapat pada jaringan hati. Jika hati mengalami gangguan, kadar kedua enzim itu melonjak. Sedangkan MDA menjadi indikator terjadinya peroksidasi lipid. Peroksidasi lemak merupakan proses yang kompleks akibat reaksi asam lemak tak jenuh ganda penyusun fosfolipid membran sel dengan senyawa oksigen rekatif (SOR) membentuk hidroperoksida.
SOR ialah senyawa yang sebagian besar terdiri atas molekul oksigen tanpa pasangan elektron sehingga lebih reaktif alias bersifat radikal bebas. Pada gangguan hati kadar MDA juga meningkat.
Hepatis adalah salah satu jenis peradangan (pembengkakan) hati yang bisa membawa pada kerusakan hati hingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Situasi ini dapat berakibat fatal dengan terganggunya metabolisme tubuh, karena fungsi hati antara lain adalah membantu pengubahan bahan makanan menjadi energi serta memecahkan dan menguraikan hasil produksi tubuh.
Dengan terapi Habbatussauda dan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, gangguan-gangguan pada hati insya Allah bisa diatasi. Tentunya diperlukan ketekunan dan kesabaran untuk bisa meraih kesembuhan, disamping doa dan sikap tenang dalam menjalani hidup.
0 komentar:
Posting Komentar