get your own embeddable forum with Talki

Minggu, 04 Desember 2011

Awas Obesitas

Ungkapan yang sering muncul kala seseorang bertemu dengan teman lamanya adalah: “Wah, saya pangling melihat kamu. Sekarang gemuk sekali. Sudah sukses nih ya!”
Kecenderungan orang memiliki berat badan bertambah memang fakta yang semakin mudah dijumpai. Tak hanya monopoli orang yang kerja kantoran, orang dari berbagai lapisan sosial kini semakin banyak yang bertubuh gemuk. Bahkan anak-anak pun tak ketinggalan.
Apakah ini merupakan pertanda dari sebuah kemajuan, yaitu dengan makin banyak orang yang makmur dengan tercukupi kebutuhan makannya? Dalam pandangan sekilas bisa jadi ya. Masyarakat akan mengangggap orang yang gemuk sebagai orang yang makmur dan sukses, terlihat dari tubuhnya yang subur karena makannya enak dan pasti banyak. Masyarakat pun akan beranggapan, orang demikian pasti mau makan apa saja bisa. Maka inilah tanda orang yang sukses.
Namun, fakta yang ada tidaklah demikian. Bermunculannya orang-orang gemuk di masyarakat yang tidak memandang status sosial dan usia, justru merupakan ancaman baru, khususnya dalam bidang kesehatan. Kegemukan merupakan bom waktu bagi berbagai penyakit yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bahkan sebelum ledakan itu terjadi, kegemukan telah menjadi “teror” dengan berbagai keluhan dan derita yang membebani hidup penyandangnya.
Overweight atau kegemukan biasanya terjadi ketika jumlah cadangan lemak dalam tubuh berlebih. Inilah yang menyebabkan berat badan seseorang melebihi normal. Walau masih dalam taraf wajar, kegemukan bisa memengaruhi bentuk tubuh dan penampilan. Jika dibiarkan, ini bisa memicu obesitas. Ibarat lampu lalu lintas, kegemukan itu lampu kuning, memperingatkan Anda untuk hati-hati.
Sementara obesitas adalah keadaan ketika jumlah cadangan lemak sudah overload dan memiliki potensi mengganggu kesehatan tubuh dan menimbulkan banyak penyakit berbahaya. Lampu merah sudah menyala jika Anda termasuk dalam kategori ini. Segera hentikan lajunya. Setiap tahun, angka penderita obesitas semakin meningkat. Kurang gerak dan makan berlebih dinilai sebagai penyebab utama.
Selain membuat tubuh jadi tidak lincah, obesitas potensial mengundang datangnya diabetes dan tekanan darah tinggi.
Kelebihan lemak juga dihubungkan dengan meningkatnya kolesterol LDL atau kolesterol jahat dan trigliserida. Dengan berjalannya waktu, perubahan lemak darah ini ikut berperan dalam pembentukan timbunan lemak (plak) pada arteri. Kondisi ini disebut aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) yang bisa membuat Anda berisiko terkena penyakit jantung koroner dan stroke.
Problem kesehatan yang tidak fatal tetapi sangat menggangggu diantaranya adalah gangguan pernafasan, gangguan kronis sendi dan otot, gangguan kulit dan infertilitas. Tidur ngorok juga dikaitkan dengan obesitas, yang sering menjadi faktor pemicu serangan jantung dan stroke.
Ada beberapa faktor penyebab obesitas, diantaranya genetik, lingkungan, psikologis, dan lain-lain. Dari sisi genetik, obesitas memang cenderung bersifat menurun. Namun ini bisa dicegah atau setidaknya diminimalkan bila orang tua mampu mengarahkan anaknya untuk memiliki pola makan yang sehat.
Kecenderungan potensi obesitas menjadi besar karena kebanyakan orang tua justru menjadi “teladan” dalam hal makan yang buruk, baik dari sisi kualitas (hanya mengedepankan rasa) maupun kuantitas (selalu banyak).
Faktor lingkungan terkait dengan kebiasaan makan dan aktivitas sehari-hari. Suka mengonsumsi fast food dan minuman manis menjadi pendorong munculnya obesitas. Terlebih bila ditambah dengan banyak ngemil dan sedikit beraktivitas, semakin cepat tubuh menjadi melar.
Terus Meningkat
Secara keseluruhan jumlah penduduk dengan kategori berat badan berlebih atau obesitas di seluruh dunia meningkat luar biasa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas. Pada 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka itu.
Jika melihat data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Angka tersebut melebihi besaran angka kekurangan gizi dan gizi buruk pada anak-anak usia di bawah lima tahun sebesar 18,4 persen.
Sering orang mengesampingkan obesitas. Padahal obesitas itu berbahaya. Kita bisa mencegahnya karena obesitas adalah pilihan yang berhubungan dengan perilaku, pola makan, aktifitas fisik dan sebagainya. (ph)
Referensi:
• Resep Hidup Sehat Prof. Dr. Zullies Ekawati, Apt – Kanisius 2010
• Obesitas itu Berbahaya, Tapi Juga Pilihan Dr. Irsyalrusad, SpPD – kompasiana.com/irsyalrusad dan referensi lain.
=================================================================================
sumber : http://proherbal.net/

0 komentar:

Posting Komentar